Tak Hanya di Grujugan, Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta juga Lakukan Pengabdian Masyarakat di Maesan Bondowoso
BONDOWOSO - Ternyata tidak hanya di Kecamatan Grujugan saja. Namun Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta juga melakukan pengabdian masyarakat di Kecamatan Maesan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.
Di Kecamatan Maesan Fakultas Filsafat UGM Yogyakarta ini juga melakukan pengabdian masyarakat yang bekerjasama dengan kelompok jamaah sarwaan di Desa Gambangan.
Pada kesempatan ini tim pengabdian yang terdiri dari dosen Fakultas Filsafat yaitu Fitri Alfatiz,M.Phil, Prof. Dr. Lasiyo dan Dela Khoirul Ainia, M.Phil.
Selain itu, turut serta dalam rombongan dosen Fakultas Filsafat yaitu Dr. Ridwan Ahmad Sukri, Drs. Budisutrisna,M.Hum dan Drs. Syafiq Effendhy, M.Hum.
Pengabdian Masyarakat di Kecamatan Maesan ini mengangkat tema “Penguatan Religiusitas melalui Kearifan Lokal”.
Hasil temuan kondisi di lapangan, bahwa masyarakat Desa Gambangan masih menjaga tradisi sholawatan, yasinan dan tahlilan yang digelar secara rutin.
Ketua pengabdian masyarakat Fitri Alfariz,M.Phil menjelaskan, substansi tujuan kegiatan program pengabdian masyarakat ini yaitu untuk menjalin silaturahmi dan kerjasama dengan masyarakat.
"Program pengabdian masyarakat ini juga sebagaii bentuk penguatan religiusitas berbasis kearifan lokal yang ada pada masyarakat, seperti gotong royong dan tradisi sholawatan," ujarnya, Senin (12/6/2023).
Prof Dr. Lasiyo menambahkan, bahwa betapa pentingnya menjaga religiusitas di era saat ini.
Kata Prof Lasiyo, berbagai pengaruh telah muncul akibat perkembangan globalisasi yang tapi batas, apalagi disusul dengan persiapan menyambut pesta demokrasi di tahun 2024.
"Masyarakat harus tetap kompak dan tidak terpengaruh dari isu-isu yang berpotensi memecah kerukunan masyarakat," imbuhnya.
Budi Sutrisna menjelaskan, terkait dengan nilai-nilai kearifan lokal juga bersinggungan dengan religiusitas, sehingga dalam upaya menjaga religiusitas dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Namun yang paling mendasar, maka perlu agar masyarakat menjaga religiusitas berdasarkan perintah dan sunah Rasulullah SAW.
"Cara menjaga religiusitas termasuk juga melalui kearifan lokal seperti sholawatan," imbuhnya.
Acara tersebut dihadiri lebih dari 50 orang, yang terdiri dari kelompok sholawatan dan masyarakat umum.
Pantauan media di lapangan, masyarakat sangat menyambut baik kegiatan itu, dengan harapan kegiatan berlanjut berupa pembinaan, maupun kegiatan pelatihan-pelatihan yang dapat menguatkan religiusitas pada masyarakat, sehingga dapat berkelanjutan pada generasi muda.
Pada akhir acara ditutup dengan penyerahan cindera mata dan hibah berupa alat penunjang kegiatan sholawatan, dengan harapan masyarakat bersemangat untuk menjaga religiusitas yang berbasis kearifan lokal.
What's Your Reaction?