Mengenal Lebih Dekat Sosok Ra Hamid, Bakal Calon Bupati Bondowoso, Punya Jejaring Nasional, Bahkan Internasional

Aug 12, 2024 - 20:09
Mengenal Lebih Dekat Sosok Ra Hamid, Bakal Calon Bupati Bondowoso, Punya Jejaring Nasional, Bahkan Internasional
KH. Abdul Hamid Wahid M.Ag atau Ra Hamid (Foto: Istagram/Ra Hamid)

BONDOWOSO- Pemilik nama asli KH. Abdul Hamid Wahid M.Ag atau Ra Hamid. Lahir pada 4 Desember 1971 dari pasangan H. Abd. Wahid Zaini, S.H. (Alm.) dan Hj. Zubaidiyah.

Ra Hamid akhir-akhir ini menjadi perbincangan hangat di tengah-tengah masyarakat Kabupaten Bondowoso pasca menerima mandat dari DPP PKB sebagai Bakal Calon Bupati (Bacabup) yang akan maju dari kota Ki Ronggo atau Bondowoso Republik Kopi (RBK).

Mungkin sepintas orang awam mengenal Ra Hamid hanya sosok keturunan kiai terkemuka di Jawa Timur, yang dibesarkan dan didik melalui Pendidikan formal kultur religius pondok pesantren Nurul Jadid Paiton Probolinggo.

Ra Hamid merupakan sosok tokoh yang memiliki kompetensi personal, segunung potensi dan sudah tidak diragukan lagi kemampuannya.

Sejak kecil Ra Hamid telah menempuh pendidikan formal yang religius, hingga kemudian melanjutkan karir sebagai tenaga pengajar masih di bidang keagamaan.

Selain sebagai pengajar dan Pembantu Rektor IV di Institut Agama Islam Nurul Jadid Paiton Probolinggo (IAINJ) pada waktu itu, beliau juga aktif membina Pondok Pesantren Nurul Jadid dan juga pernah mengajar di Sekolah Tinggi Teknologi Nurul Jadid Paiton Probolinggo (STTNJ). yang saat ini bernama Universitas Nurul Jadid (Unuja). Ia saat ini menjabat sebagai Rektor Unija.

Ra Hamid merupakan tokoh berpengaruh yang memiliki jejaring kuat di kancah Nasional, bahkan Internasional.

Ra Hamid juga memiliki kemampuan di bidang akademik yang juga tidak diragukan lagi.

Ra Hamid memiliki kemampuan membangun kerjasama pendidikan hingga ke luar negeri, seperti kerjasama beasiswa pelajar ke negeri Cina atau negeri tirai bambu.

Ra Hamid juga memiliki kompetensi sebagai politisi profesional.

Ra Hamid di dunia politik mengawali karirnya sejak tahun 1999 yang menjabat sebagai anggota DPRD Probolinggo.

Pada tahun 2003-2004 Ra Hamid diangkat menjadi Wakil Ketua DPRD Probolinggo.

Sejak bergabung dengan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), karier politik ayah dari 5 anak ini makin bersinar dan melesat.

Ra Hamid sukses menjadi anggota DPR/MPR-RI dari Fraksi PKB pada periode 2004-2009, sebagai anggota komisi X (menangani urusan Pendidikan, Pariwisata, Olahraga, dan Perpustakaan).

Ra Hamid juga pernah terpilih menjadi anggota Badan Urusan Rumah Tangga (BURT) DPR RI dan Anggota Grup Kerjasama Bilateral (GKSB) DPR RI untuk negara Brazil.

Kinerja Ra Hamid yang baik selama menjadi anggota DPR RI membawanya terlibat dalam beberapa Panitia Kerja/ Panitia Khusus diantaranya Panja RUU BHP, Panja RUU Guru, Panja RUU Pariwisata, Pansus RUU Pornografi, Pansus RUU Anti Diskriminasi Ras dan Etnis, Panja Komisi VIII RUU Kesejahteraan Sosial.

Sosok Ra Hamid merupakan tokoh yang memiliki multitalenta, dari kompetensi personal sebagai akademisi, religius, politisi sukses, memiliki jejaring yang kuat di kancah nasional, bahkan internasional.

Dikutip dari akun Instagram pribadinya, Ra Hamid tahun ini juga telah sukses membangun kerjasama di bidang Pendidikan, khususnya kerjasama di bidang Bahasa Mandarin dengan Universitas ternama di China, Beijing Foreign Studies University (BFSUI).

Dalam lawatannya ke negeri tirai bambu, Ra Hamid juga berkunjung ke KBRI Chaoyang District, Beijing. Bahkan di Tiongkok Ra Hamid berkunjung ke Shandong Foreign Trade Vocational College melakukan kerjasama internasional tentang ekonomi dan Pendidikan.

Selain membangun kerjasama di negeri tirai bambu, Ra Hamid juga sudah melakukan kunjungan rapat kerja ke Jepang.

Di negeri sakura ini Ra Hamid membangun kerjasama Pendidikan.

Bahkah, di negeri sakura Ra Hamid sempat bertemu dengan koleganya, salah satu tokoh yang mempunyai keahlian di bidang teknologi pertanian, Warga Negara Indonesia (WNI) asal Kabupaten Lumajang yakni Pak Anas.

Ra Hamid adalah rektor Universitas Nurul Jadid (Unuja). Saat pertama dipimpinnya, bentuk perguruan tinggi ini masih institut. Tidak lama, sentuhan dingin Ra Hamid berdampak nyata pada transformasi Institut Agama Islam Nurul Jadid menjadi Unuja.

Berbagai terobosan dibangun untuk menegaskan posisi Unuja sebagai pusat pengembangan Pendidikan tinggi berkualitas.

Unuja menjelma menjadi perguruan tinggi di bawah Kemendikburistek yang diperhitungkan. 

Belum lama ini, Unuja menjadi kampus NU terbaik pada tahun 2024. Penilaian ini bukan kaleng-kaleng, karena dilakukan oleh lembaga pengindeks terkemuka AD Scientific Index.

Kedua, salah satu faktor yang mengakselerasi transformasi penting di Unuja adalah kepemimpinan yang mampu membangun jejaring global.

Melalui berbagai kemitraan yang dibangun dengan mitra global seperti China, Jepang dan beberapa negara lain, Unuja secara cepat menjelma seperti saat ini.

Kepiawaian dalam mengembangkan sektor Pendidikan, ditunjang oleh global networking yang luas menjadi modal penting untuk memajukan Bondowoso.

Dikutip dari pernyataan Ikhwan Efendi, Peneliti Aksara Institut dan Mahasiswa Doktor Universitas Islam Malang, bahwa Bondowoso adalah kawasan yang menyimpan potensi besar untuk dikembangkan.

"Bumi Bondowoso memiliki banyak anugerah," ujarnya.

Penghasil kopi kualitas dunia, kawasan agraris penopang ketahanan pangan, penghasil tembakau dengan kualitas tinggi, bumi kaldera Ijen Purba, pusat situs megalitikum dan sebagainya, adalah sederet keunggulan Bondowoso.

Meski demikian, Bondowoso juga memiliki keterbatasan dibandingkan kawasan lain; misalnya Bondowoso menjadi satu-satunya daerah yang tidak memiliki kawasan laut di Tapal Kuda.

Hingga saat ini, keunggulan tersebut belum tergarap secara maksimal. Padahal jika dimaksimalkan, potensi tersebut akan menjadi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang besar.

Faktanya, tingkat ketimpangan (gini ratio) di Bondowoso masih berada di angka 0,350 di bawah Situbondo sebesar 0,326. Rumusnya, semakin tinggi angka gini ratio, semakin tinggi ketimpangannya.

Angka kemiskinan di Bondowoso juga tertahan di angka 13 % selama dua tahun 2022 dan 2023.

Angka tersebut menjadi yang tertinggi se eks Karesidenan Besuki (Radar Jember, 2023). IPM Bondowoso meski mengalami kenaikan, masih berada di angka 70,56 pada tahun 2023, di bawah Situbondo dengan 70, 65.

Itu semua menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, tentunya memerlukan sosok pemimpin yang punya konsep, punya relasi kuat ke tingkat pusat.

Kemampuan dan potensi jejaring, serta relasi di tingkat nasional, khususnya punya relasi kuat ke pemerintahan pusat yang dimiliki Ra Hamid. Hal itu merupakan modal kuat untuk pembangunan Bondowoso lebih baik ke depan.

Ra Hami mempunya banyak kolega, relasi, dan alumni santri Nurul Jadid di pemerintahan pusat, untuk dapat diajak bersama-sama membangun Bondowoso dengan menggelontorkan berbagai program yang dapat dinikmati oleh masyarakat dan dapat mendorong percepatan dan penyelesaian pembangunan di Kabupaten Bondowoso yang saat ini tak kunjung usai.

Dapat dibayangkan jika hanya mengandalkan APBD Bondowoso untuk membangun infrastruktur jalan yang rusak saja memerlukan jangka waktu 10 tahun.

Di sini, rekam jejak Ra Hamid sebetulnya memiliki keunggulan tersendiri untuk melakukan transformasi yang akseleratif jaka ditakdirkan menjadi Bupati Bondowoso.

Dengan potensi diri dan jejaring yang kuat, maka akan menopang dan menjadi modal kuat membawa Bondowoso lebih baik ke depannya.

PKB sudah dipastikan mengusung Ra Hamid dalam pemilihan umum daerah (Pilkada) 2024 di Kabupaten Bondowoso. Hal itu sebagaimana disampaikan oleh H. Ahmad Dhafir beberapa waktu lalu kepada sejumlah awak media, Kamis (18/7/2024).

Ra Hamid di prediksikan akan maju berpasangan dengan KH As’ad Yahya Syafi’I atau Ra As’ad, yang kabarnya merupakan hasil petunjuk dan rekomendasi dari KH. R Ahmad Azaim Ibrahimy, pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow