Kementan RI: Petani di Agara Jaga Pengendalian OPT Pada Tanaman
Aceh Tenggara - Dalam Upaya Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Pada Tanaman Perkebunan di Kabupaten Aceh Tenggara, Kementerian Pertanian Republik Indonesia (Kementan RI) mengelar Bimbingan Teknis (Bimtek).
Pelaksanaan Bimtek itu dilaksanakan di Desa Kumbang Indah Kecamatan Badar Kabupaten Aceh Tenggara, Jum'at (19/05/2023).
Dihadiri oleh, Anggota Komisi IV DPR-RI H. M. Salim Fakhry, SE., MM, Koordinator Data dan Kelembagaan Pengendalian OPT Ditjenbun Eva Lizarmi, SP, Ketua DPRK Aceh Tenggara Denny Febrian Roza, S.STP., M.Si, Anggota DPRK Agara Samsuariadi, ST., M.Si, Camat Badar Nawar Fika, SE, Danramil 0108/-03 Badar Kapt. Arh Hamdanisyah, ST, Kapolsek Badar Ipda Irwansyah, SH, Narasumber Erdarina Pelis, SP., M.Si, Kades Kampung Raja Muslim, Kades Kumbang Indah Kamjani, S.Pd, Tokoh Masyarakat Rizal SKD, Rumah Aspirasi Amin Sulaiman, Mukim Cibro Rudi dan ratusan peserta dari masyarakat petani.
Koordinator Data dan Kelembagaan Pengendalian OPT Ditjenbun Eva Lizarmi, SP mengatakan, kegiatan ini tidak terlepas dari perlindungan, karena sebagus apapun tanaman jika terserang hama penyakit, maka pertumbuhan dan hasil panen kurang maksimal.
Jadi dalam kegiatan bimtek ini agar nantinya masyarakat petani dapat mengetahui bagaimana cara merawat tanaman dengan baik.
Dikarenakan Daerah Kabupaten Aceh Tenggara (Agara), mayoritas petani di bidang holtikultura, pada bimtek ini mudah mudahan petani dapat kesimpulan yang benar dalam perawatan tamanan mudah terjaga.
Kepala Dinas Pertania Agara, Riskan dalam sambutannya menjelaskan, diketahui sebanyak 85 persen masyarakat Aceh Tenggara (Agara) hidup sebagai petani dan pekebun.
Pada umumnya, Kabupaten Aceh Tenggara merupakan penghasil bumi di bidang holtikultura pertanian seperti kakao, pinang dan kopi yang berpotensi 19 ribu hektar dan 12 ribu hektar penghasilan. Dan banyak lagi tanaman lainya seperti tanaman sawit.
Riskan berharap, dalam kegiatan ini agar benar mengikuti, sehingga bisa menambah ilmu, terkhusus dilahan atau ladang sendri.
Sementara itu, Anggota Komisi IV DPR-RI H. M. Salim Fakhry, SE., MM sekaligus membuka acara bimtek menyebutkan, petani di Aceh Tenggara masih cenderung menggunakan cara instan dalam mengendalikan OPT dilapangan dengan menggunakan pestisida untuk mendapatkan hasil yang cepat, sehingga menimbulkan dampak negatif berupa resistensi resensi dan pencemaran residu bagi lingkungan
Dikatakan Fakhry, Petani yang mengikuti bimtek ini agar lebih serius dan memahami apa yang nanti diterangkan oleh pemateri. Agar bisa diimplementasikan di lapangan dan bermanfaat bagi masyarakat banyak.
Karena Petani adalah andalan kita bersama dalam menggerakkan perekonomian Daerah. Tentu tidak terlepas dari adanya gangguan Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang bisa mempengaruhi kualitas maupun kuantitas produksi tanaman perkebunan, bahkan kematian tanaman.
What's Your Reaction?