Meski Mengabdi Belasan Tahun, Kader Militan Partai Gerindra Ini Kalah Sama 'Bacaleg Titipan'
SIBER INDONESIA - Moch.Sholeh kader militan DPC Partai Gerindra Jember memilih untuk mundur dari Bacaleg Tahun 2024.
Ia memutuskan diri, mengambil langkah itu karena dirinya tersingkir dari nomor urut satu di dapil 6 digantikan Bacaleg yang diduga titipan dari salah seorang tokoh kiai besar di Jember.
Menurut Sholeh, seharusnya Partai Gerindra melihat pengabdiannya selama ini di Partai Gerindra.
Berdasarkan informasi yang dia dapatkan, kiai besar tersebut langsung melakukan lobi kepada Ketua Umum Prabowo Subianto.
"Tetapi itu saya tidak percaya," katanya menimpali pertanyaan wartawan Senin (15/05/2023) kemaren.
Alumni senior Ponpes Nurul Jadid ini menilai, panitia seleksi Partai Gerindra Jember tidak profesional dan proporsional.
"Harusnya kan diumumkan ke internal partai. Tunjukan mana buktinya, kalau memang direkom Ketua Umum saya ingin tahu," katanya.
Sebenarnya mantan Sekretaris PCNU Kencong ini tidak mempersoalkan, jika dirinya memang harus diganti dan disingkirkan.
"Selama dia adalah murni kader militan partai. Bukan tiba-tiba muncul nyaleg dan menggeser yang ada," beber alumni aktivis PMII itu.
Bahkan Sholeh masih meragukan, ideologi kepartaian yang menggantikan dirinya."Patut diragukan," sambungnya.
Maka dari itu, Sholeh berencana akan bersurat kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, untuk mengklarifikasi hal itu.
"Kalau perlu saya datang sendiri ke Jakarta menemui Ketua Umum. Agar semua puas dan jelas," lantangnya.
Kendati begitu, sebagai kader militan Partai Gerindra dirinya tetap berkomitmen, akan tetap mendukung dan memenangkan Prabowo Subianto sebagai Calon Presiden Tahun 2024
"Siap berjuang Prabowo Subianto sampai jadi Presiden Tahun 2024," tutupnya.
Sementara Ketua DPC Partai Gerindra Jember Ahmad Halim, menanggapi cepat pertanyaan wartawan, terkait sikap Moch.Sholeh memilih mundur dari bakal calon legislatif dapil 6.
Halim memilih untuk tidak menanggapi terlalu jauh dan enggan berpolemik terkait sikap Sholeh terkait video dan berita yang beredar.
"Itu hal yang biasa dalam pencalegan. Kita hormati beliau (Sholeh) sebagai seorang ksatria," tulisnya menanggapi pertanyaan wartawan, Senin (15/05/2023).
Menurut Halim, terkait mundur dari pencalegan itu tidak boleh dipaksakan, karena itu sikap politik.
"Itu sikap politik, kita tidak boleh menghalang-halangi orang yang mau maju, mundur atau pindah. Itu bagian dari hak asasi," lanjutnya.
Ditanya terkait siapa yang punya kewenangan menentukan nomor urut, ia enggan menanggapi.(Ron)
What's Your Reaction?