Kabar Baik! Penderita TBC di Jember Kini Bisa Berobat Gratis di Seluruh Puskesmas

Dec 28, 2022 - 21:40
Kabar Baik! Penderita TBC di Jember Kini Bisa Berobat Gratis di Seluruh Puskesmas
Kepala Dinkes Jember, Lilik Lailiyah, saat diwawancarai awak media. (Foto: Zaha/Siberindonesia.id)

JEMBER - Bagi anda yang saat ini menderita penyakit Tuberculosis (TBC), jangan khawatir lagi dengan biaya berobat. Sebab, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Jember telah menyediakan obat gratis bagi penderita TBC di wilayah setempat.

Menurut Kepala Dinkes Jember, Lilik Lailiyah, obat TBC gratis tersebut bisa didapat dengan mudah di 50 Puskesmas se-Kabupaten Jember.

"Kami banyak program berobat gratis. Sayangnya masih banyak masyarakat yang belum tahu, sehingga mereka takut untuk berobat. Padahal berobat di Puskesmas itu gratis," ucapnya, Rabu (28/12/2022).

Selain itu, Lilik juga memastikan, ketersediaan stok obat gratis di Puskesmas yang tersebar di 31 Kecamatan juga sangat mencukupi. 

"Akhir tahun ini pun kita sudah melakukan banyak pengadaan obat-obatan, untuk kelengkapan pelayanan gratis. Khusus untuk TB, stok juga tersedia," imbuhnya.

Pada 2023 mendatang, kata Lilik, jika pelayanan obat gratis di Instansi Farmasi Kesehatan (IFK) mengalami kekurangan atau ada jenis obat yang belum lengkap, maka Puskesmas sudah bisa membeli secara langsung. Sebab seluruh Puskesmas sudah menjadi Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

"Jadi tentunya tidak akan menjadi masalah ketersediaan obat di Puskesmas ini, dengan adanya program pelayanan gratis," tandasnya.

Dalam menanggulangi penyakit TBC ini, Dinkes Jember juga bersinergi dengan SSR TBC Komunitas - STPI Penabulu Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera. Dan untuk mewujudkan eliminasi TBC 2030.

Tuberculosis

Berdasarkan data dari Yayasan Bhanu Yasa Sejahtera, Tuberkulosis merupakan suatu penyakit infeksi yang dapat menular secara langsung disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Tuberculosis.

Menurut Global TB Report tahun 2021, Indonesia berada di peringkat ketiga di dunia dengan kasus TBC terbanyak. Diperkirakan estimasi insidensi sebesar 824 ribu kasus atau 301 per 100.000 penduduk.

Data Kemenkes RI Per November 2021, menunjukkan bahwa capaian cakupan penemuan kasus TBC sebesar 33 persen ( target 85 persen), angka keberhasilan pengobatan sebesar 76 persen (target 90 persen).

Pada GTR 2020, dari jumlah kasus yang tercatat, hanya 67 persen dari total kasus yang ditemukan diobati dan sebanyak 33 persen pasien TBC yang belum diobati.

SSR Yayasan Banu Yasa sejahtera Kabupaten Jember sebagai Organisasi Masyarakat Sipil (OMS) turut berperan aktif terhadap masalah penyakit TBC tersebut.

Hal ini menjadi masalah kesehatan prioritas yang harus diperhatikan. Juga dikarenakan mudahnya penularan bakteri dari orang ke orang, hanya dengan percikan dahak ketika pasien batuk maupun bersin kemudian dihirup oleh orang yang di dekatnya, maka dapat membawa bakteri tersebut masuk ke dalam sistem pernafasan orang tersebut.

TBC ini waktu pengobatannya cukup lama, yaitu sekitar 6 hingga 9 bulan untuk TB sensitif obat. Dan 11 sampai 24 bulan untuk TB resistant obat/Multi Drug Resisten.

Pengobatan yang cukup lama ini dapat menimbulkan beberapa permasalahan bagi pasien maupun keluarga, yang kurang kesadaran atau pengetahuan bahwa pentingnya menjalani pengobatan ini hingga sembuh. 

Sehingga peran atau dukungan keluarga masyarakat maupun tenaga kesehatan, khususnya yang bertanggung jawab dalam program TBC, sangat penting diberikan agar tidak terjadi putus pengobatan atau lost to follow up. 

Putus pengobatan ini menjadikan penyakit TBC menjadi parah dan bahkan memperpanjang waktu pengobatan atau bisa menjadi TB resisten obat.

Peran stakeholder sangat diperlukan dalam eliminasi TBC 2030 ini. Koalisi Organisasi Profesi Indonesia (KOPI TB) untuk penanggulangan TB Kabupaten Jember yang sudah bekerja sama dengan Yabhysa Jember dalam menanggulangi penyakit TBC ini, tidak bisa secara maksimal apabila hanya perawat ataupun dokter yang memberikan edukasi sekaligus mengevaluasi kepatuhan pasien dalam masa pengobatan, dikarenakan banyaknya jumlah pasien dan dengan permasalahan yang berbeda-beda.

Sehingga sangat penting adanya kerja sama antar stakeholder pemangku kepentingan ataupun dari komunitas dalam mengatasi masalah TBC ini, dan masalah pasien lost to follow up dapat ditemukan dan atasi bersama. Agar pasien dapat mengikuti prosedur pengobatan yang telah ditentukan hingga dinyatakan sembuh.

What's Your Reaction?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow